Supir Ugal-Ugalan

Cara Menjadi Pribadi dan Orang Tua Yang Baik

Pernah liat supir ugal-ugalan di jalan raya?
Pernah ngalami masa-masa metromini masih eksis di Jakarta dan merasakan adrenalin terpacu ketika kita naik didalamnya? Ajib banget! Bukan cuma ugal-ugalan tapi juga rambu-rambu lalu lintas tidak berlaku untuk metromini.

Atau mungkin kita sendiri yang menjadi supir ugal-ugalan. Membawa serta keluarga dalam mobil dan memacu kendaraan sesuka hati. Zig-zag sana-sini, pokoknya ugal-ugalan abees. Asoy geboy katanya sih, tapi ga acuh dengan keselamatan orang lain terutama penumpang didalam mobil.

Ini asli nonjok banget, karena begitulah kelakuan ana kalo lagi nyupir. Pecinta adrenalin, pokoknya kalo gas belum sampe mentok injek terus. 170 …. 180 … 190 atau 200 km perjam, apalagi kalo di tol cipali. Kadang suka manas-manasin mobil lain, nyari musuh untuk adu nyali. Lupa kalo bawa istri sama anak-anak.

Seringnya setelah sampai tujuan ana tertegun dan bertanya “where the hell i’am going at 190 km per hours” (mirip lyrik lagu radiohead ya?)

Gimana kalo tadi mobilnya tergelincir? Gimana kalo tadi rem blong? Gimana kalo tadi BLACKOUTS? Gimana..gimana dan gimana yang lainnya. Terbayang hal-hal yang bisa membahayakan diri sendiri, istri dan juga anak-anak. Ujungnya menghela napas panjang dan juga berisitghfar. Ternyata ana ini supir ugal-ugalan, tidak memikirkan keselamatan istri dan anak-anak dan juga mungkin pengendara yang lain.

Urusan supir menyupir ini ternyata bukan urusan sederhana, bukan sekedar pergi dari satu titik awal ketitik tujuan. Tapi juga harus memperhatikan keselamatan diri + penumpang dan hal-hal yang menunjang keselamatan.

 

Setelah sekian lama malang melintang dalam dunia supir-meyupir mobil versi ugal-ugalan, baru beberapa saat lalu ana menyadari (sebelumnya tau tapi setengah sadar) bahwa ana ternyata bukan hanya supir mobil. Tapi ana juga adalah supir dari dua bahtera besar, yaitu bahtera kehidupan dan bernama rumah tangga.

Sepertinya bukan cuma ana yang setengah sadar, tapi banyak diantara kita yang juga setengah sadar bahwa kita sedang menjadi supir dari bahtera kehidupan dan atau bahtera rumah tangga.

Dalam menjalani bahtera kehidupan dan atau bahtera rumah tangga, kita sangat ugal-ugalan. Melampaui zig-zag dengan ketika nyupir mobil, atau menembus batas 200 km /jam atau melebihi nekatnya supir metromini. Pokoke the top of ugal-ugalan, nothing compares lah!

How come? Kok bisa?
Iya, banyak diantara kita tidak sadar atau setengah sadar bahwa menjalani bahtera kehidupan dan atau bahtera rumah tangga semua ada rambu-rambu dan aturannya. Bahwa jalan kedua bahtera ini akan berujung pada sebuah tujuan akhir. Sebuah tujuan akhir dari dua tujuan dan tidak ada tujuan lainnya, yaitu surga atau neraka. Mengikuti rambu-rambu dan sampai dengan selamat ke surga atau ugal-ugalan dan celaka berujung di neraka.

Mau kita bawa kemana jalan bahtera kehidupan kita? Mau kita bawa kemana jalan bahtera rumah tangga kita yang berisi istri dan anak-anak?

 

Kita sering ugal-ugalan menjalani kehidupan ini, menerjang semua rambu-rambu norma agama, tidak peduli halal dan haram. Tidak kenal ibadah kepada sang pencipta. Jangankan ibadah, siapa penciptanya saja kita tidak mengenal.

Kita sering tidak peduli dengan bahtera rumah tangga kita, abai terhadap keselamatan istri dan anak-anak. Tidak peduli apakah istri dan anak-anak perempuan kita menutup aurat atau tidak. Kita bahkan menyuapi istri dan anak-anak kita dengan harta haram. Dari harta RIBA, harta hasil korupsi. Dan sebutkan saja semua rambu-rambu jalan bahtera mana yang belum kita langgar?

 

Duhai diri yang lalai, hendak kemanakah jalan bahtera kehidupan dan atau bahtera rumah tangga ini berujung? Apakah akan menjerumuskan diri sendiri dan juga istri dan anak-anak kedalam jurang kesengsaran abadi karena ulah kita yang ugal-ugalan ketika mengendarai bahtera? Ataukah perjalanan ini berujung pada kebahagiaan abadi disisi Robb yang Maha Pengasih.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [QS: At-Tahrîm: 6]

Purwokerto,

25 Robiul Akhir 1440 / 1 Januari 2019

Leave a Comment