Antara Aku, Teuku Wisnu, Dimas Seto dan Irwansyah (Dulu kita juga gitu)

Teuku Wisnu Hijrah – Artis Hijrah

Antum jangan cari ana didalam foto ya. Karena ana yang pegang kamera untuk ambil gambar tersebut (SWEAR). Mereka beruntung karena ana ga ada dalam gambar, karena kalo ada ana, mereka semua pasti kalah. kalah ancur tampangnya (hehehe). Gambar ana ambil di kota batu malang, tanggal 30 juni 2018 menjelang kajian UAZ (Ustadz siapa coba?).

Menjelang kajian? YAP.

Mas-mas ganteng (masya Allah) yang ada dalam foto itu sedang menunggu sesi kajian UAZ (udah tau belum ustadz siapa?). Mereka menyengaja datang dari Jakarta ke Malang untuk mengikuti kajian ilmiah intensif selama tiga hari. Dan mereka bawa istri masing-masing looh. Jadi bukan cuma mereka yang ngaji, tapi para istri juga ikut kajian. Keren kan? (masya Allah). Oya, mas-mas ganteng dibelakang sisi kanan yang pake kemeja biru sambil tersenyum manis itu suami dari Dewi Sandra.

Ana ajak antum semua flash back ke memori dalam hidup ana. Anggap aja pake time machine atau pake mobilnya Michael J. Fox di Back To Future. Kalo antum tau nama dan judul film itu atau pernah nonton filmnya berarti antum sekarang sudah tua.

Once upon a time…

Ketika hidayah menyapa, Allah memberikan jalan hidayah tersebut berkelok dan panjang. Sehingga ana “dipaksa” untuk menikmati proses hidayah ini. Berkelok dan panjang karena ana tidak langsung menemukan indahnya cahaya sunnah. Menyambut hidayah dalam keadaan sendiri dan tanpa arah, terseok dan mampir dalam kubangan bidah serta kesyirikan. Bertemu dengan teman-teman yang kurang benar dalam beramal, ikut bermain bersama mereka. Kemudian maju terus dan berteduh ditempat dimana teman-teman hobinya mencela sesama muslim, padahal mereka berjenggot dan celana cingkrang. Tidak tampak adab dan akhlak yang baik dalam diri mereka. Sampai setelah beberapa lama akhirnya berkat kasih sayang Allah, ana bertemu dengan cahaya Sunnah (insya Allah). Yang semoga menjadi terminal akhir pencarian hidayah untuk kemudian istiqomah sampai bertemu dengan-Nya.

Panjang dan lamanya proses yang ana alami membuat ana memiliki empati ketika melihat saudara-saudara yang juga dalam proses menjemput hidayah kemudian mereka terseok, tigulesat (terpeleset), tigebrus (jatuh ke lobang) ataupun titotolonjong (mau jatuh ke depan, namun masih bisa ditahan oleh kedua kaki). Afwan, istilah ini dalam bahasa bapak ana karena dalam bahasa Indonesia ga ada kata yang tepat untuk menggambarkan kondisinya.

Ketika melihat hal tersebut ana berkata: “Dulu ana juga gitu”. Ana berusaha untuk tidak mencela proses hijrah mereka, ketika hijrahnya mereka menuju ke arah yang belum tepat. Ana berusaha untuk membantu atau minimal mendoakan kebaikan untuk mereka. Bisa jadi Allah menghendaki kebaikan yang besar untuk mereka dengan membuat proses hijrah mereka panjang dan berkelok.

Banyak saudara-saudara kita yang tidak sabar melihat proses seseorang dalam berhijrah. Ketika mereka tigulesat atau titotolonjong tidak sedikit saudara kita yang mencela dan menyoraki. Atau bahkan mengolok-olok di media sosial.

Mereka yang mencela dan mengolok-olok itu mungkin lupa bahwa “dulu mereka juga gitu”, atau mungkin mereka terlahir dalam keadaan langsung mengenal sunnah?? Allahu’alam

End Of Flash Back!

Apa inti dari tulisan ini? … Apa ya? Antum simpulkan sendiri deh, terus tulis di kolom komentar. hehehe

Diakhir tulisan ini mungkin antum bertanya apa hubungannya antara ana, Teuku Wisnu, Dimas Seto dan Irwansyah? Ana juga ga tau, mungkin karena saat itu kami ada ditempat yang sama jadi ana bikin judul seperti itu. Terserah ana kan ya? maka antum ga boleh protes. #WADEZIG!!

Purwokerto, 18 Syawal 1439 H

Leave a Comment