Menyanggah buku ternyata akhirat tidak kekal karya agus mustofa

Kategori Religi | Komentar (7) 08 Februari 2010 / 24 Safar 1431 Hijr

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang menjanjikan kebahagiaan di surga bagi orang-orang yang bertakwa dan kesengsaraan di neraka bagi orang-orang yang kufur lagi durhaka. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, sebagai penutup para Nabi dan panutan dalam meniti jalan yang lurus, begitu pula kepada keluarga dan para sahabatnya.

Allah Ta'ala berfirman,

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ (106) خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (107) وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ (108)

"Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya."(QS. Huud: 106-108)

Jika kita melihat ayat di atas, seakan-akan ada yang ganjil. Allah mengisyaratkan surga dan neraka itu ada selama bumi dan langit itu ada. Dari sini bisa diyakini bahwa surga dan neraka itu tidak kekal. Ayat inilah yang menjadi dasar keyakinan Ir. Agus Mustofa (Penulis Buku Tasawuf Modern) dalam bukunya "Ternyata Akhirat Tidak Kekal"[1]. Berikut kami cuplik sedikit perkataan beliau dalam buku tersebut setelah beliau membawakan surat Huud ayat 106-108:

"Ayat di atas bercerita tentang keadaan penduduk neraka dan penduduk surga. Dikatakan oleh Allah, bahwa mereka itu akan kekal di dalam surga atau neraka selama ada langit dan bumi.

Informasi ini, sungguh sangat menggelitik logika kita. Kenapa demikian? Sebab ternyata kekekalan surga dan neraka itu -menurut ayat ini- tergantung pada kondisi lainnya, yaitu keberadaan langit dan bumi alias alam semesta.

Dengan kata lain, akhirat itu akan kekal jika langit dan bumi atau alam semesta ini juga kekal. Sehingga, kalau suatu ketika alam semesta ini mengalami kehancuran, maka alam akhirat juga bakal mengalami hal yang sama, kehancuran.

Tentu, hal ini membuat kita agak shock. Sebab ini telah menggoyang apa yang sudah kita pahami selama ini. Bahwa yang namanya akhirat itu adalah alam baka. Alam yang kekal abadi, dan tidak akan pernah mengalami kiamat lagi. Dan itu telah dikatakan berulang-ulang dalam Al Qur'an.

Akan tetapi, apakah kita tidak percaya kepada firman Allah di atas, bahwa Surga dan Neraka itu kekalnya adalah sekekal langit dan bumi? Tentu saja, kita juga nggak berani untuk tidak percaya, sebab kalimat-kalimat di atas demikian gamblangnya: Khaalidiina fiiha maadaamatis samaawaati wal ardhi ... (kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi ...) "(hal. 234)

Demikian sedikit nukilan dari perkataan beliau, yang kesimpulannya sesuai judul bukunya yaitu akhirat itu tidaklah kekal. Kami sangat tergelitik sekali ingin menyanggah pernyataan beliau di atas dengan merujuk pada pakar tafsir terkemuka. Yang tentunya ilmu ulama tafsir sudah pasti lebih terpercaya. Semoga Allah memudahkan untuk menyelesaikan tulisan ini karena ingin mengharapkan wajah-Nya yang mulia.

3 Hal yang Mesti Diyakini Mengenai Surga dan Neraka

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Hafizh Al Hakami rahimahullah, keyakinan terhadap surga dan neraka yang mesti diyakini adalah 3 hal. Beliau sebut dalam bait syairnya,

والنَّارُ وَالجَنَّةُ حَقٌّ وَهُمَا ... مَوْجُوْدَتَانِ لاَ فَنَاءَ لَهُمَا

"Neraka dan surga adalah benar adanya. Keduanya telah ada saat ini. Dan keduanya tidaklah fana."

Berikut sedikit uraiannya.[2]

Pertama: Surga dan neraka itu benar adanya, tidak ada keraguan sedikit pun tentangnya.

Di antara dalilnya,

وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (131) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (132) وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133)

"Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."(QS. Ali Imron: 131-133)

Kedua: Surga dan neraka sudah ada saat ini.

Tentang surga, Allah Ta'ala berfirman,

أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

"Yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."(QS. Ali Imron: 133)

Tentang neraka, Allah Ta'ala berfirman,

أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

"Yang telah disediakan untuk orang-orang kafir."(QS. Ali Imron: 131). Jika dikatakan "telah disediakan", berarti keduanya telah ada.

Dari Imron bin Hushain, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اطَّلَعْتُ فِى الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ ، وَاطَّلَعْتُ فِى النَّارِ ، فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

"Aku pernah melihat surga, lalu aku melihat bahwa kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Aku pun pernah melihat neraka, lalu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita."[3]

Dari Ibnu 'Abbas, Rofi' bin Khudaij, 'Aisyah dan Ibnu 'Umar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ ، فَأَبْرِدُوهَا بِالْمَاءِ

"Sakit demam berasal dari panasnya jahannam. Oleh karenanya, dinginkanlah demam tersebut dengan air."[4]

Ketiga: Surga dan neraka itu kekal karena Allah yang menghendaki keduanya untuk kekal. Keduanya tidaklah fana. Banyak sekali dalil yang membicarakan hal ini, berikut kami sebutkan sebagiannya.

Tentang surga, Allah Ta'ala berfirman,

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."(QS. At Taubah: 100)

Tentang neraka, Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا ,إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya."(QS. An Nisa': 168-169)

Dari 'Abdullah bin 'Umar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ ، وَ أَهْلُ النَّارِ النَّارَ ، ثُمَّ يَقُومُ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ يَا أَهْلَ النَّارِ لاَ مَوْتَ ، وَيَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لاَ مَوْتَ ، خُلُودٌ

"Jika penduduk surga telah memasuki surga dan penduduk neraka telah memasuki neraka, kemudian seseorang akan meneriaki di antara mereka, "Wahai penduduk neraka, tidak ada lagi kematian untuk kalian. Wahai penduduk surga, tidak ada lagi kematian untuk kalian. Kalian akan kekal di dalamnya."[5]

Awal Sanggahan dari Mustofa Bisri

Buku "Ternyata Akhirat Tidak Kekal"sebenarnya sudah dikritisi lebih terlebih dulu oleh A. Mustofa Bisri. Berikut pemaparan beliau ketika memberikan pengantar untuk buku tersebut.

"Yang paling menarik tentu kesimpulan Agus Mustofa tentang ketidak-kekalan Akhirat, yang karenanya kemudian menjuduli bukunya dengan "Ternyata Akhirat Tidak Kekal"ini. Kesimpulannya itu antara lain didasarkan pada Q.S. 11 Hud: 107 dan 108, di mana -menurut pemahaman Agus- kekekalan mereka yang berbahagia di sorga maupun celaka di neraka digantungkan "kepada kondisi lainnya, yaitu keberadaan langit dan bumi alias alam semesta".

Dengan kata lain, paparnya, "Akhirat itu akan kekal jika langit dan bumi atau alam semesta ini juga kekal. Sehingga kalau suatu ketika alam semesta ini mengalami kehancuran, maka alam akhirat juga bakal mengalami hal yang sama, kehancuran"(hal. 234). Pendapat ini diperkuat dengan kutipan Q.S. 28: Al Qashash: 88,

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

"Tiap-tiap sesuatu itu pasti binasa kecuali 'Wajah-Nya'"

Kesimpulan dan pendapat itu terjadi karena Agus Mustofa tidak mempertimbangkan atau mengabaikan tafsir-tafsir yang ada, khususnya mengenai kalimat:

مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ

Misalnya, tafsiran Ahli Tafsir yang menyatakan bahwa yang dimaksud "langit dan bumi"adalah langit dan bumi yang lain, berdasarkan QS. 14: 48

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ

"(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit."... [6]

Demikian sebagian komentar dari Bapak Mustofa Bisri yang mengkritik pendapat kontroversial dari Agus Mustofa. Intinya, pendapat yang diutarakan oleh Agus Mustofa berseberangan dengan pendapat ahli tafsir dan para ulama yang tentu lebih memahami ayat tersebut. Mari kita simak penjelasan selanjutnya.

Merujuk Tafsiran Ulama

Pertama: Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib Al Amili (Abu Ja'far Ath Thobari)

Mengenai ayat,

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ

"Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi", Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah mengatakan, "Orang Arab biasanya jika ingin mensifatkan sesuatu itu kekal selamanya, maka mereka akan mengungkapkan dengan,

هذا دائم دوام السموات والأرض

"Ini kekal selama langit dan  bumi ada."Namun maksud ungkapan ini adalah kekal selamanya.[7]

Kedua: Abul Fida' Isma'il bin 'Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi

Selain membawakan perkataan Ibnu Jarir Ath Thobari, Ibnu Katsir membawakan penafsiran lain. Beliau rahimahullah mengatakan, "Boleh jadi dipahami bahwa maksud ayat "selama langit dan bumi itu ada"adalah jenis langit dan bumi (maksudnya: langit dan bumi yang beda dengan saat ini, pen). Karena sudah pasti alam akhirat juga ada langit dan bumi (namun berbeda dengan saat ini, pen). Buktinya adalah firman Allah Ta'ala,

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ

"(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit."(QS. Ibrahim: 48)

Oleh karena itu, Al Hasan Al Bashri menjelaskan mengenai firman Allah,

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ

"Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi", maksudnya adalah Allah mengganti langit berbeda dengan langit yang ada saat ini. Begitu pula Allah mengganti bumi berbeda dengan bumi yang ada saat ini. Langit dan bumi (yang berbeda dengan saat ini tadi, pen) pun akan terus ada."

Ibnu Abi Hatim mengatakan bahwa Sufyan bin Husain menyebutkan dari Al Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu 'Abbas, beliau mengatakan mengenai firman Allah (yang artinya), "Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi,"yaitu setiap surga itu memiliki langit dan bumi.

'Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan, "Yaitu selama bumi itu menjadi bumi (yang berbeda dengan saat ini, pen) dan langit menjadi langit (yang berbeda dengan saat ini, pen)."-Demikian penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah mengenai surat Huud ayat 107.[8]

Ketiga: Abu Muhammad Al Husain bin Mas'ud Al Baghowi

Al Baghowi menyatakan yang hampir sama dengan Ibnu Jarir Ath Thobari dan Ibnu Katsir. Al Baghowi mengatakan, "Mengenai ayat (yang artinya), "Mereka kekal di dalamnya"yaitu terus berada tinggal di dalamnya. Sedangkan ayat (yang artinya), "Selama langit dan bumi itu ada", sebagaimana dikatakan oleh Adh Dhohak, "Selama langit dan bumi dari surga dan neraka itu ada. Karena segala sesuatu yang berada di atasmu dan menaungimu itulah langit. Sedangkan segala sesuatu sebagai tempat engkau berpijak itulah bumi. Begitu pula para pakar tafsir menjelaskan bahwa ungkapan dalam ayat tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kekalnya sesuatu. Inilah ungkapan yang biasa disebutkan oleh orang Arab. Mereka biasa mengatakan, "Saya tidak akan mendatangimu selama langit dan bumi itu ada". Atau mereka katakan, "... selama bergantinya malam dan siang". Mereka maksudkan ini semua untuk mengungkapkan "selamanya"."[9]

Keempat: Muhammad bin 'Ali bin Muhammad Asy Syaukani

Tentang ayat (yang artinya), "Selama langit dan bumi itu ada,"Asy Syaukani menukil perkataan Ibnu 'Abbas yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, beliau mengatakan maksud ayat tadi, "Setiap surga memiliki langit dan bumi tersendiri."[10]

Kelima: Mahmud bin 'Amr bin Ahmad Az Zamakhsyari

Az Zamakhsyari menyatakan penafsiran yang sama dengan Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir. Jadi, makna ayat (yang artinya), "Selama langit dan bumi itu ada", maksudnya: [1] Yang dimaksud adalah langit dan bumi di akhirat, keduanya itu abadi dan makhluk yang kekal, [2] ungkapan orang Arab yang ingin menyatakan sesuai itu kekal dan tidak ada ujung akhirnya.

Untuk maksud pertama ini, beliau membawakan dua ayat bahwa di akhirat itu ada langit dan bumi tersendiri. Ayat pertama, Allah Ta'ala berfirman,

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ

"(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit."(QS. Ibrahim: 48)

Ayat kedua, Allah Ta'ala berfirman,

وَأَوْرَثَنَا الأرض نَتَبَوَّأُ مِنَ الجنة حَيْثُ نَشَاء

"Dan telah (memberi) kepada kami bumi (tempat) ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki."(QS. Az Zumar: 74)[11]

Keenam: Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengungkapkan, "Sekelompok ulama menjelaskan mengenai firman Allah (yang artinya), "Selama langit dan bumi itu ada", yaitu yang dimaksud adalah langit dari surga dan bumi dari surga. Sebagaimana disebutkan dalam Shahihain, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika kalian ingin meminta pada Allah, mintalah surga Firdaus. Firdaus adalah surga yang paling tinggi dan merupakan surga pilihan. Sedangkan atap (langit) dari surga tersebut adalah 'Arsy Allah". Begitu pula sebagian ulama ketika menjelaskan mengenai firman Allah,

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

"Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh."(QS. Al Anbiya': 105). Yang dimaksudkan di sini adalah bumi di surga. Oleh karena itu tidak bertentangan antara yang menyatakan langit akan terlipat (yaitu langit dunia, pen). Sedangkan langit yang tetap terus ada adalah langit (atap) dari surga. Oleh karena itu, yang mesti kita pahami adalah segala sesuatu yang berada di atas, maka ia disebut secara bahasa dengan langit (as samaa'). Sebagaimana pula hujan disebut dengan samaa' (langit). Dan atap juga disebut dengan samaa' (langit)."[12]

Ringkasnya, mengenai surat Huud ayat 107 dan 108, ada dua penafsiran:

Pertama: Yang dimaksud adalah langit dan bumi yang ada di akhirat nanti.

Kedua: Penyebutan "selama langit dan bumi itu ada"adalah ungkapan orang Arab yang ingin menyebutkan sesuatu itu kekal abadi.

Bandingkan tafsiran di atas ini dengan pemahamann penulis buku tersebut.

Kekeliruan Penulis Buku "Ternyata Akhirat Tidak Kekal"

Dari penjelasan ulama di atas, terlihat jelas bahwa surat Huud ayat 16-108 bukan memaksudkan akhirat itu tidak kekal sebagaimana yang disalahpahami oleh Agus Mustofa. Sudah jelaslah kekeliruan yang beliau utarakan dalam buku tersebut. Intinya, kekeliruan yang beliau lakukan disebabkan beberapa hal:

Pertama: Hanya bergantung pada logika yang dangkal

Setelah beranjak dari pemahaman keliru terhadap surat Huud ayat 107 dan 108, beliau pun mengemukakan argumen sains. Namun ini sudah beranjak dari pemikiran keliru terhadap ayat tadi dan dibangun di atas logika yang fasid (rusak). Yang namanya logika jika bertentangan dengan dalil, maka dalil yang mesti didahulukan karena logika tentu saja terbatas. Coba pahami baik-baik perkataan seorang alim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut ini.

"Bahkan akal adalah syarat untuk mengilmui sesuatu dan untuk beramal dengan baik dan sempurna. Akal pun akan menyempurnakan ilmu dan amal. Akan tetapi, akal tidaklah bisa berdiri sendiri. Akal bisa berfungsi jika dia memiliki instink dan kekuatan sebagaimana penglihatan mata bisa berfungsi jika ada cahaya. Apabila akal mendapati cahaya iman dan Al Qur'an barulah akal akan seperti mata yang mendapatkan cahaya mentari. Jika bersendirian tanpa cahaya, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu."[13]

Intinya, logika bisa berjalan dan berfungsi jika ditunjuki oleh dalil syar'i yaitu dalil dari Al Qur'an dan As Sunnah. Tanpa cahaya ini, akal tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan tentang surga dan neraka, betapa banyak ayat yang menunjukkan kekalnya. Pantaskah di sini akal mengalahkan dalil Al Qur'an dan As Sunnah? Logika barulah benar jika memang tidak berseberangan dengan wahyu.

Kedua: Tidak mau merujuk pada ulama

Inilah salah satu kekeliruannya lagi. Jarang sekali kami lihat dalam buku beliau yang menukil perkataan ulama atau mau merujuk pada mereka dalam menafsirkan ayat. Beliau kadang menafsirkannya sendiri sehingga bisa salah fatal semacam ini.

Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Umar bin 'Abdul 'Aziz,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

"Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada perbaikan yang dilakukan."[14]

Kita punya kewajiban jika tidak tahu tentang masalah agama termasuk pula dalam memahami ayat untuk bertanya pada orang berilmu. Allah Ta'ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui."(QS. An Nahl: 43 dan Al Anbiya': 7).

Ingatlah, obat dari kebodohan adalah dengan bertanya pada ahli ilmu. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

شِفَاءُ الْعِىِّ السُّؤَالُ

"Obat dari kebodohan adalah dengan bertanya."[15] Ketika membawakan hadits ini, Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut kebodohan dengan penyakit dan obatnya adalah dengan bertanya pada para ulama (yang berilmu)."[16]

Ketiga: Mengikut ayat mutasyabih (yang masih samar)

Sebelum menyebutkan pendapatnya pada halaman 234, sebenarnya Ir. Agus Mustofa sudah memaparkan ayat-ayat yang menunjukkan kekalnya surga dan neraka. Bahkan beliau sendiri katakan di hal. 232 dari bukunya, "Dan masih banyak lagi ayat tentang kekekalan Surga, Neraka, atau Akhirat itu. Tak kurang dari 110 ayat yang menggambarkan, betapa akhirat, surga dan neraka itu kekal."

Namun ketika sampai pada hal. 234, setelah membawakan surat Huud ayat 106-108, beliau pun mengatakan, "Justru di sinilah kunci pemahamannya. Pertama, bahwa akhirat tersebut sesungguhnya memang tidak kekal. Akan tetapi, ketidakkekalan itu bukan berarti meringankan arti dari informasi-informasi sebelumnya yang mengatakan: Khaalidiina fiiha ... (kekal di dalamnya ...). Dan di ayat lainnya lagi seringkali ditambahkan kata 'abada' (abadi, selama-lamanya). Miliaran tahun! Karena kekal yang dimaksudkan tersebut memang bukan kekal yang tidak terbatas. Akhirat adalah makhluk. Karena itu ia pasti memiliki awal dan akhir."Demikian perkataan beliau.

Semula ia katakan bahwa 110 ayat membicarakan kekekalan akhirat, namun ketika bertemu dengan surat Huud ayat 106-108, baru ia menjadi bingung. Lalu akhirnya ia simpulkan bahwa akhirat itu tidak kekal. Bagaimana mungkin hanya berpegang pada surat Huud lalu mengalahkan 110 ayat yang menyatakan kekekalan surga dan neraka?!

Thoriqoh (metode) orang-orang yang menyimpang memang seperti ini. Kebiasaannya adalah selalu mempertentangkan ayat yang satu dan lainnya. Atau kebiasaannya adalah berpegang pada ayat yang masih samar (baca: mutasyabih) dan meninggalkan ayat-ayat yang sudah jelas yaitu ayat muhkam. Seharusnya sikap yang tepat ketika seseorang menemukan ayat-ayat yang samar dan sulit baginya untuk memahaminya adalah ia pahami dan membawa ayat tersebut kepada ayat muhkam (yang sudah jelas maknanya). Bukan malah yang jadi pegangan adalah ayat mutasyabih yang masih samar.

Itulah yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala, ketika kita menemukan ayat masih samar, bawalah ayat tersebut kepada ayat yang sudah jelas maknanya agar kita tidak tersesat. Allah Ta'ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

"Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal."(QS. Ali Imron: 7). Ayat-ayat yang muhkam (yang sudah jelas maknanya) dalam ayat ini disebut dengan ummul kitaab (induk kitab). Artinya, ayat-ayat muhkam inilah yang jadikan rujukan ketika bertemu dengan ayat-ayat yang masih samar bagi sebagian orang (mutasyabihaat).[17] Namun kecenderungan orang-orang yang sesat adalah biasa mengikuti ayat mutasyabih (yang masih samar).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, yaitu keluar dari kebenaran menuju pada kebatilan, maka mereka mengikuti ayat yang masih mutasyabih (masih samar). Mereka mengambil ayat mutasyabih tersebut yang mampu mereka selewengkan sesuai maksud mereka yang keliru dan dijadikan sebagai pembela mereka karena makna yang masih bisa diselewengkan sesuka mereka. Adapun ayat-ayat yang muhkam (yang sudah jelas maknanya), seperti itu tidak dijadikan rujukan mereka. Mereka tidak mau berpegang pada ayat yang muhkam karena itu bisa menyangkal dan menjatuhkan pendapat mereka sendiri. "[18]

Penutup

Inilah beberapa kekeliruan dasar penulis Agus Mustofa. Ditambah lagi pemahaman beliau yang berbau tasawuf dan filsafat, hal ini semakin menambah kelamnya buku "Ternyata Akhirat Tidak Kekal".

Kami hanya mengingatkan, waspadalah terhadap buku-buku dan pemahaman beliau sebagaimana Nabi  shallallahu 'alaihi wa sallam menasehati kita agar waspada dengan orang-orang yang hanya mau berpegang pada ayat mutasyabih (yang masih samar) dan meninggalkan jauh-jauh ayat muhkam (yang sudah jelas maknanya).

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca surat Ali Imron ayat 7 di atas, lalu 'Aisyah mengatakan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ

"Jika kalian melihat orang-orang yang sering mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih (yang masih samar), maka merekalah yang Allah katakan, "Waspadalah terhadap mereka"."[19]

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada penulis buku tersebut. Semoga kaum muslimin yang lain dapat terhindar dari kekeliruan-kekeliruannya. Hanya Allah yang memberi taufik.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com

Diselesaikan di pagi hari di Panggang, GK, 21 Shofar 1431 H

Komentar {7}

1
abdul gani | 12 Februari 2010
buku ini sangat bagus kiranya perlu dibaca para cendikiawan islam, dimana bisa beli? Saya sampai saat ini 65 tahun, saya baru dua kali dengan ini pernah membaca tentang manusia pertama bukan nabi Adam. Sebelumnya di harian Waspada medan ada mengupas tentang manusia sebelum kelahiran nabi Adam karangan salah seorang ulama(sudah meninggal) yg diterbitkan era thn 1960 -19 70.beliau berpendapat dari peninggalan2 bukti kebudayaan kuno yg lebih tua dari peradaban nabi Adam.
2
Yudono | 07 Februari 2010
kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain).....kalau terjemahan ini penafsirannya bagaimana??
3
Agung | 13 Februari 2010
Setahu saya yang kekal itu hanya Allah, jika akhirat (Surga dan Neraka) kekal berarti selain Allah ada yang kekal dong ? minta tolong pencerahannya ...
4
Cipto Ahmad | 03 Februari 2010
Yah inilah kelompok yg memahi islam secara partial, yang menggunakan 1 atau 2 ayat untuk berpendapat yg aneh2. Biarkan saja mereka dan jangan buang2 waktu melayani mereka. Mereka lebih mendewakan akal dan inkar kpd ayat2 Allah, kalaupun mereka menggunakan ayat2 Allah hanya sekedar utk mendukung argumentasinya saja. Ciri lainnya adalah malas sholat apalagi puasa, lebih2 sholat malam. Wanitanya tidak mau nutup aurat dg segala alasan, pergaulannya bebas hampir tdk beda dg orang2 kafir (atau mungkin memang mereka telah kafir), serta masih banyak ciri lainnya. Mereka sering mengaku sebagai cendikiawan, padahal bila ditilik lebih jauh sebenarnya mereka kaum yg sesat dan tidak memahami islam secara menyeluruh. Semoga mereka bertobat, atau mungkin mereka adalah kelompok yang akan meramaikan neraka jahanam.
5
banyu bening | 14 Februari 2010
Menjawab Kejanggan Yang membantah Kejanggalan
Sangat menarik sekali pembahasan tentang akherat, yang berisi Surga dan Neraka, sebagiab kelompok ada yang menyatakan tidak kekal sebagaimana yang dijelaskan oleh Agus Mustopha. Sedangkan sebagian besar menyatakan Kekal dengan dalil:
Surga dan neraka itu kekal karena Allah yang menghendaki keduanya untuk kekal. Keduanya tidaklah fana. Banyak sekali dalil yang membicarakan hal ini, berikut kami sebutkan sebagiannya.
Tentang surga, Allah Ta'ala berfirman,
ุฎูŽุงู„ูุฏููŠู†ูŽ ูููŠู‡ูŽุง ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ููŽูˆู’ุฒู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู…ู
"Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."(QS. At Taubah: 100)
Tentang neraka, Allah Ta'ala berfirman,
ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูƒูŽููŽุฑููˆุง ูˆูŽุธูŽู„ูŽู…ููˆุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ููŠูŽุบู’ููุฑูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ู„ููŠูŽู‡ู’ุฏููŠูŽู‡ูู…ู’ ุทูŽุฑููŠู‚ู‹ุง ,ุฅูู„ู‘ูŽุง ุทูŽุฑููŠู‚ูŽ ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ูŽ ุฎูŽุงู„ูุฏููŠู†ูŽ ูููŠู‡ูŽุง ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya."(QS. An Nisa': 168-169)
Dari 'Abdullah bin 'Umar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุŒ ูˆูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑูŽ ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู…ู ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ูŒ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ู„ุงูŽ ู…ูŽูˆู’ุชูŽ ุŒ ูˆูŽูŠูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ู„ุงูŽ ู…ูŽูˆู’ุชูŽ ุŒ ุฎูู„ููˆุฏูŒ
"Jika penduduk surga telah memasuki surga dan penduduk neraka telah memasuki neraka, kemudian seseorang akan meneriaki di antara mereka, "Wahai penduduk neraka, tidak ada lagi kematian untuk kalian. Wahai penduduk surga, tidak ada lagi kematian untuk kalian. Kalian akan kekal di dalamnya."
Yang Kekal Hanyalah Allah
Surga dan Neraka awalnya tidak ada kemudian diciptakan oleh Allah, semua ciptaan Allah adalah fana' bakal mengalami kehancuran begitu juga surga dan neraka. Maka sungguh aneh sekali kaum salafi yang biasanya selalu berslogan memerangi kesyirikan dan mentauhidkan Allah, tetapi mengapa dalam hal ini kok plin-plan?
Di dunia ini yang Kekal hanyalah satu yaitu Allah, karena dia pencipta, jika ada yang kekal lainnya berbartiada Penguasa "Tuhan" lain. Maka mustahil itu terjadi sebagaimana firman Allah:
ูƒูู„ู‘ู ุดูŽูŠู’ุกู ู‡ูŽุงู„ููƒูŒ ุฅูู„ู‘ูŽุง ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู
"Tiap-tiap sesuatu itu pasti binasa kecuali 'Wajah-Nya"'
Q.S. 28: Al Qashash: 88))
Memang telah menjadi kebiasaan salafi, selalu memutar-mutar dalil, jika tidak cocok hadits maupun ayat akan dibuang, dan mereka akan mengambil dalil yang muter dan tidak jelas juga. Hal ini sering terjadi ketka meeka mengeluarkan fatwa. Contohnya: mereka selalu berslogan harus mengikuti Qur'an-hadits, ketika Sunni memakai adzsan dua kali dalam jumatan, dianggap bid'ah karena tidak ada dalil nash yang menguatkan, akan tetapi dalam satu sisi, yaitu sholat tarawih mereka kaum salafi justru membuat bid'ah dengan cara Sholat taraiwh berjamaah di masjid, aneh bukan?
Jika memang konssisten, seharusnya mengikuti Sunnah nabi yaitu Sholat Tarawih dirumah tanpa jamaah, jikapun terpaksa ke masjid maka harus tig amalam saja sebagaimana Nabi dalam hidupnya hanya tiga malam sholat tarawih di masjid.
Mereka berasalan Sholat Tarawih berjamaah di masjid tidak bid'ah, akrena Sahabat Umar sebagai Kholifah memerintahkan dan menganjur kannya. Oke, jika memang anda konsisten :
1. Mengapa Sk. Kholifah Usman untuk adzan jum'at dua kali tidak anda ikuti, bahkan di anggap bid'ah? Bukankah Kholifah Usman adalah pemimpin ummat Islam saat itu sebagaimana pemimpin sebelumnya yaitu Kholifah Umar?
2. Jika Adzan dua kali dalam jumat anda bid'ah, lalu mengapa sholat berjamaah tarawih di masjid tidak anda sesatkan?
Surga Dan Neraka Adalah sebuah Gambaran
Sebagaimana yang kita ketahui banyak sekali kita temukan perumpamaan atau amtsal. Mengapa Allah menggunakan banyak perumpamaan dalam Al-qur'an? Sebagaimana Allah jelaskan bahwa perumpamaan itu agar manusia memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, berfikir dan selalu mengingat (QS14:25, 14:24, 30:58, 39:27, 59:21 dll...)
Dan Sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Qur'an ini segala macam perumpamaan untuk manusia (QS 30:58)
Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quraan ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran (QS 39:27)
Surga di dalam Al-qur'an banyak digambarkan adalah kebun yang indah, ada sungai yang mengalir dibawahnya, banyak bidadari, banyak perhiasan, Khomer jadi halal. Semua itu adalah sebuah gambaran bagi kafir qurays saat itu yang tidak percaya dengan hari AKhir dan juga sebagai motivasi untuk beriman dan ghiat beribadah. Gambaran-gambran di atas, jika dijelaskan dwilayah yang subur seperti Asia Tenggara orang bakal tidak beriman dan masuk Islam, karena wilayahnya sudah subur, banyak kebun, apalagi diu Vietnam banyak tanaman ganja yang memabukkan.
Begitu juga Nerka di dalam Al-qur'an juga merupakan sebuah gambaran yang menakut, tujuan penggambaran tersebut agar orang kafir taku, serta orangh mukmin untuk menjauh maksiat dan banyak beribadah
Pertanyaan selanjutnya yang harus kita jawab : kenapa Allah menggambarkan siksaan fisik itu, baik dalam al-Qurโ€™an, maupun melalui Rasul-Nya dengan tingkat โ€œkekejamanโ€ yang begitu ekstrem? Nah, salah satu penjelasan mengajak kita untuk meletakkan gambaran-gambaran ini dalam konteks keadaan ketika al-Qurโ€™an diturunkan dan Rasul diutus. Siksaan-siksaan yang amat kejam hingga di luar imajinasi kita yang hidup di zaman sekarang, biasa dilakukan pada masa itu. Misal, terkadang masing-masing dari sepasang kaki seseorang yang disiksa diikat ke dua kuda yang bergerak ke arah bertentangan sedemikian, sehingga tubuh orang itu terbelah dua. Masih banyak siksaan-siksaan sadis seperti ini, Maka jika al-Qurโ€™an, dan hadis tak menggambarkan siksaan neraka dengan simbol fisik dan cara yang ekstrem, kepedihannya tak akan begitu dihayati oleh audiens pada masa itu.
Nah, sampailah kita ke pertanyaan terakhir : Kenapa Allah tega memasukkan manusia ke neraka secara โ€œkekal-abadiโ€? Alternatif jawaban pertama terletak pada cara kita memahami makna kata abadโ€ dalam al-Qurโ€™an, yang biasa diterjemahkan sebagai kekal-abadi itu. Menurut beberapa penafsiran, kata itu sesungguhnya berarti waktu yang lama โ€“ dalam bahasa Indonesia berarti โ€œberabad-abadโ€.
Surga & Neraka Sudah ada Penghuninya?
Tentang surga, Allah Ta'ala berfirman,
ุฃูุนูุฏู‘ูŽุชู’ ู„ูู„ู’ู…ูุชู‘ูŽู‚ููŠู†ูŽ
"Yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."(QS. Ali Imron: 133)
Tentang neraka, Allah Ta'ala berfirman,
ุฃูุนูุฏู‘ูŽุชู’ ู„ูู„ู’ูƒูŽุงููุฑููŠู†ูŽ
"Yang telah disediakan untuk orang-orang kafir."(QS. Ali Imron: 131).
Jika dikatakan "telah disediakan", berarti keduanya telah ada.
Dari Imron bin Hushain, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
ุงุทู‘ูŽู„ูŽุนู’ุชู ููู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ูŽุง ุงู„ู’ููู‚ูŽุฑูŽุงุกูŽ ุŒ ูˆูŽุงุทู‘ูŽู„ูŽุนู’ุชู ููู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ุŒ ููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกูŽ
"Aku pernah melihat surga, lalu aku melihat bahwa kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Aku pun pernah melihat neraka, lalu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita."
Dari Ibnu 'Abbas, Rofi' bin Khudaij, 'Aisyah dan Ibnu 'Umar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
ุงู„ู’ุญูู…ู‘ูŽู‰ ู…ูู†ู’ ููŽูŠู’ุญู ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ูŽ ุŒ ููŽุฃูŽุจู’ุฑูุฏููˆู‡ูŽุง ุจูุงู„ู’ู…ูŽุงุกู
"Sakit demam berasal dari panasnya jahannam. Oleh karenanya, dinginkanlah demam tersebut dengan air."
(demikian saya kutipkan dari artikel di atas)
Sangat Lucu sekali membaca Tulisan anda, awalnya begitu seamngat menyerang tulisan Agus Mustofa, ternyata akhirnya menggelikan. Oke, jika memang Surga dan Neraka Sudah ada dan sudah ada isi dan penghuninya, penghuninya dari mana? Hal ini sangat bertolak belakang karena:
1. Manusia akan masuk Surga atau Neraka jika sudah qiyamat dan kita ditimbang amal perbuatannya, jika banyak kebaikan maka akan masuk Surga, jika dosanya lebih banyak maka masuk Neraka
2. Ummat manusia yang pertama kali dihisab oleh Allah adalah Ummat Nabi Muhammad, anehnya sekarang aja kita masih hidup semua lalu ummat dari mana mereka sudah bisa masuk Surga atau Neraka?
Jika anda lebih teliti sebetulnya yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad ketyika melihat Surga dan neraka dalam Isra' Mi'roj adalah gambaran Surga dan Neraka dalam Alam barzakh.
3. Terjadi pelecehan terhap kaum wanita, bahwa penghunin neraka yang paling banyak adalah wanita, apakah laki-laki di dunia ini Soleh & baik semuanya? Hadits di atas tidak salah, ucapan kanjeng nabi itu sebuah gambaran saat itu bahwa wanita banyak membuat fitnah yang menjadikan kehancuran suku dan bangsa, sehingga masuk neraka. Jika sekarang maka tentu akan berbeda, karena jumlah laki-laki juga tambah banyak, justru banyak laki-laki yang memperlakukan wanita dengan seenaknya dan mentelantarkannya. Bias-bisa penghuni Neraka terbanyak untuk saat ini adalah laki-laki, maksunyda di alam barzakh.
4. "Sakit demam berasal dari panasnya jahannam. Oleh karenanya, dinginkanlah demam tersebut dengan air."
Itu adalah ucapan nabi sebagaimana untuk mengambarkan dan membandingkan, bahwa orang sakit panas, saanya tidak enak di badan apalagi kondisi di Neraka bias lebih dahsyat panasnya. Jika diartkan tekstual, bahwa panasnya orang sakit adalah efek dari api neraka ini bakal menggelikan yang mendengarnya dan tidak menakutkan bagi orang kafir.
Apalagi jam sekarang tekhnologi kedokteran semakin cangggih dan bias menemukan obat panas, maka orang kafir tidak bakalan takut neraka karena akan membeli Vaksin anti panas neraka jahannam.
Ingat janganlah mudah terjebak dengan tekstual, karena membuat anda tampak menggelikan dan aneh.
Akhirnya Neraka Menjadi Kosong
Yazid al-Faqir (si bungkuk, tabiโ€™in ini dijuluki demikian karena tulang punggungnya cidera) menuturkan:
Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat sekte Khawarij -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang sudah masuk neraka tidak bisa lagi keluar darinya-. Pada suatu ketika, kami bersama serombongan orang banyak berangkat menunaikan ibadah haji. Kemudian, kami pun keluar di hadapan orang-orang -sembari menyerukan pemikiran Khawarij dan menghasut orang-orang untuk mengikutinya-.
Ketika kami melewati Madinah, kami bertemu di sana dengan Jabir bin Abdullah -seorang sahabat Nabi- yang sedang menuturkan hadits dari Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam kepada sekelompok orang sambil dia duduk bersandar kepada sebuah tiang. Ketika itu, dia menyebutkan hadits tentang al-Jahannamiyun (yaitu orang-orang yang dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke surga).
Aku pun (Yazid) berkata kepadanya,
โ€œWahai Sahabat Rasulullah, apa-apaan yang kalian ceritakan ini? Bukankah Allah telah berfirman (yang artinya), โ€œSesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka maka Engkau benar-benar telah menghinakannya.โ€ (QS. Ali Imran: 192). Allah juga menyatakan (yang artinya), โ€œSetiap kali mereka -penduduk neraka- ingin keluar darinya maka mereka pun dikembalikan lagi ke dalamnya.โ€ (QS. as-Sajdah: 20). Lalu apa-apaan yang kalian ucapkan tadi?โ€.
Jabir pun menjawab, โ€œApakah Engkau membaca al-Qurโ€™an?โ€.
Kujawab, โ€œIya.โ€
Jabir berkata, โ€œApakah kamu pernah mendengar (di dalam al-Qurโ€™an) mengenai maqam/kedudukan agung yang dimiliki oleh Muhammad โ€˜alaihis salam, yaitu yang beliau dibangkitkan oleh Allah di atasnya (maksudnya adalah syafaโ€™at Nabi kepada umatnya kelak di akherat)?โ€.
Kujawab, โ€œIya.โ€
Jabir berkata, โ€œSesungguhnya hal itu -yang aku sampaikan- merupakan kedudukan terhormat Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang dengan sebab itu Allah berkenan mengeluarkan siapa saja yang ingin dikeluarkan-Nya -yaitu semua orang beriman-.โ€
Yazid berkata:
Kemudian Jabir menceritakan kejadian diletakkannya jembatan/shirath -di atas neraka- dan bagaimana keadaan orang-orang yang berjalan di atasnya, namun aku khawatir tidak hafal dengan baik rentetan ceritanya. Yang jelas, dia menceritakan bahwa ada suatu kaum yang keluar dari neraka yang sebelumnya mereka berada di dalamnya.
Dia -Jabir- berkisah, โ€œMereka itu keluar darinya dalam keadaan seperti pucuk-pucuk benih tanaman wijen -yang menghitam karena tersengat sinar matahari- (hal itu disebabkan tubuh mereka terbakar di dalam neraka, sebagaimana diceritakan dalam sebagian riwayat). Kemudian mereka masuk ke dalam sebuah sungai di antara sungai-sungai yang ada di surga dan mandi di dalamnya. Kemudian mereka pun keluar -dalam keadaan putih bersih- seperti lembaran-lembaran kertas.โ€
Setelah mendengar -hadits- itu, maka kami pun rujuk -dari pendapat kami-. Kami berkata, โ€œSungguh celaka kalian ini -maksudnya adalah diri mereka sendiri- apakah kalian mengira orang tua ini (yaitu Jabir bin Abdullah) berdusta atas nama Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam?โ€.
Setelah itu, kami pun kembali pulang -seusai menunaikan ibadah haji-. Demi Allah, tidak ada di antara kami yang tetap berkeras untuk keluar (memberontak sebagaimana Khawarij) kecuali hanya satu orang.
Demikianlah isi kisah itu, atau sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Nuโ€™aim -seorang guru dari gurunya Imam Muslim yang meriwayatkan hadits ini-.
(Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, lihat Syarh Muslim [2/323-324])


Asal Kita Dari Allah Dan Akan Kembali KepadaNya
Dalam Q.S 32:9, 21:91, 15:29 telah dinyatakan bahwa ruh-Nya ditiupkan ke diri manusia agar ciptaan-Nya (manusia) makin sempurna. Manusia menjadi hidup karena adanya ruh dari Sang Maha Hidup. Dan karena ruh itu adalah ruh-Nya maka pastilah akan kembali kepada-Nya cepat atau lambat. Adapun surga dan neraka sebenarnya hanyalah alam-alam ciptaan Tuhan dimana tiap-tiap manusia akan melewatinya. Ibarat tangga yang akan menuju kepada-Nya, surga dan neraka adalah titian tangga yang memang harus dilewati tiap manusia.
Surga yang masih merupakan alam ciptaan Tuhan, sesungguhnya adalah target jangka pendek bagi manusia. Dikarenakan manunggal dengan Tuhan memang tidak mudah, paling tidak manusia diharapkan minimal mendapat surga dengan perbuatan yang baik selama hidupnya sekarang. Itulah sebabnya iming-iming surga banyak disebut di Quran dan Hadist. Dengan melalui tangga-tangga surga, maka kita akan lebih cepat sampai kepada-Nya ketimbang mereka yang kualitasnya masih level neraka.

6
Adlan pongkowulu''kulisusu'' | 01 Februari 2010
z tetap komitmen pada ajaran Islam''menrut ilmu yg q pelajari brupa hal2 yg wajib dan larangannya...menngenai buku ''Menyanggah buku ternyata akhirat tidak kekal karya agus mustofa '' Wallahu Alam'' z belum pas ut mengambil kesimpulan sebelum z tau ilmux.
7
Wijhatul Haq | 23 Februari 2010
Saya Pertama kali Mem,baca buku yang ditulis oleh Ir. Agus Mustofa, ?
Maka saya langsung Respon, aliyas Peka terhadap Hal2 yang bersifat akidah Mungkin Buku yang pertama kali yang saya baca sampai tuntas. kalo gak salah Judulnya energi pusaran Ka'bah?!!!
dan saya kritisi di situ buaaanyak penyimpangan dalam akidah Tauhid saya lihat latar belakangannya aja sudah gak jelas apalagi berbau tasyawuf ... dam maaf ini saya simpulkan Ir. Agus Mustofa termasuk Tuhannya energi atau mendekati Wihdatul Wujud, yang saya sesalkan itu kata pengantarnya itu pernah belajar islam pora kok disetujuhi kebetulan saya dipinjami teman dan saya sarankan kepada teman saya bahwa buku yang ditulis Cak Agus itu banyak penyimpangan dalam masalah akidah, saya juga memaklumi memang bukan kapasaitasnya bicara tentang din/syari'at apalagi dia bicara tentang Allah tanpa ilmu, ini lebih bahaya ada seorang Syaikh mengatakan bahwa bicara tentang allah tanpa ilmu itu dosanya di atas syirik. contoh Cak Agus Mustofa,

Tulis Komentar

Nama
Nama (harus diisi).
Url
Url (optional).
Komentar
Karakter tersisa Komentar (harus diisi, maksimal 1000 karakter).
Anti Spam
security code
Anti spam (harus diisi).