Pemuja Akal

Kategori Religi | Komentar (3) 08 April 2010 / 23 Robiul Akhir 1431

Imam Syafi'i berkata: "sesungguhnya akal itu memiliki batas yang tidak dapat ia lampaui (dalam berpikir), sebagaimana mata memiliki batas (pandangan) yang tidak dapat ia lampaui".

barang siapa menggunakan akal melampaui batas kemampuannya terutama dalam memahami syariat niscaya dia akan terjerumus kedalam kegelapan yang tiada penerangan didalamnya.

Syaikhul Islam berkata: "Akal seandainya diterangi dengan iman dan ajaran islam adalah ibarat mata yang dibantu oleh sinar matahari dalam melihat."

Akal yang tidak disertai dengan iman dan ajaran islam maka dia ibarat mata yang memandang didalam kegelapan malam yag sangat pekat. Niscaya manusia yang berjalan dalam keadaan tersebut akan tersesat dan terjerumus pada kesalahan-kesalahan.

Allah memerintakan manusia untuk menggunakan akal dalam menerima dan menjalankan perintah syariat walaupun akal tersebut belum mengetahui apa hikmah dibalik perintah Allah.

Pembangkangan terhadap Allah yang pertama kali terjadi adalah karena penggunaan akal yang melampaui batas. Dimana iblis menolak untuk sujud kepada adam dengan alasan yang menurut akalnya bahwa dia lebih mulia dari pada adam yang diciptakan dari tanah.

Demikianlah manusia menolak syariat islam karena akalnya.

Sesungguhnya Allah lah yang menciptakan agama islam yang sempurna ini dan Allah lah yang menciptakan akal manusia. Maka tidak mungkin syariat agama islam ini bertentangan dengan akal sehat dan fitrah manusia.

Kata akal sehat perlu digaris bawahi, karena akal yang menolak syariat atau bertentangan dengan syariat islam hanyalah akal yang tidak sehat. Yaitu akal yang dipenuhi dengan hawa nafsu dan syubhat. Akal yang tidak disertai dengan iman dan ilmu agama.

Demikianlah para ulama salaf (ulama terdahulu) telah memberikan peringatan kepada kita untuk menempatkan akal pada fitrahnya supaya kita tidak terjerumus dalam kesalahan dalam memahami dan mengimani agama islam yang sempurna ini.

Sesungguhnya kita belajar ilmu agama adalah untuk menyempurnakan hakikat ubudiyah (penghambaan) kita. Untuk bersimpuh dan menangis dihadapan Allah Azza Wajalla.

Purwokerto, 23 Robiul Akhir 1431